WordPress contact form plugin

Facebook Posts

Astagaaa admin sampe ngakak nonton video iniiii! Ceritanya si pebisnis ngeyel bangettt ngga pisahin duit pribadi sama duit usaha. Eh, bener kannnnnn jadi masalah gedeeeee! Ngga percaya? Buruan tonton videonya! ... See MoreSee Less

View on Facebook

Haaaaaloooooo!

Saatnya pengumuman pemenang kuis video #AccurateMan buat dapetin VOUCHER NONTON di XXI Rp. 200.000,- dan PULSA Rp. 50.000,-

Pemenang dipilih secara acak, untuk yang beruntung mendapatkan VOUCHER XXI 200K masing-masing untuk 2 orang adalah;

Wibi Sana Rachmat
Ellen Ardianti Soo

Untuk pemenang masing-masing pulsa Rp. 50.000,- adalah;

Toshiko Potoboda
Annisa Zainat Rahimi
Afifah Khairunnisa

----------------------------------------------------------------------

Untuk semua pemenang akan kami kirim direct message untuk memberikan alamat dan data pribadi. Yang belum menang, jangan sedih jangan gaau, coba di kesempatan selanjutnya, yaaaa! 😉😉😉😉
... See MoreSee Less

View on Facebook

ADD AKUN AKU YA ... See MoreSee Less

View on Facebook

Sedih! Sekarang Giliran Hardys Grup Pailit, Daya Beli Jadi Penyebabnya atau Tren Online yang Telat Dilakukan?

Pailitnya Grup Hardys yang menguasai retail di Bali tentunya mengejutkan banyak pihak. Tak ada yang menyangka grup yang dipentoli oleh pengusaha I Gede Agus Hardiawan itu telah pailit dibalik gencarnya Grup Hardys dalam mengembangkan bisnis properti yang tersebar pada 12 titik di Bali yang berada dibawah payung Hardys Land.

Tutupnya Hardys Retail menambah panjang daftar retail-retail modern dan raksasa tutup. Sebelumnya, Matahari Department Store menutup beberapa gerainya yang ada di beberapa titik di IbuKota. Dan sebelum Matahari, retail Seven Eleven (Sevel) sudah menutup semua gerainya yang ada di Indonesia sejak Juni 2017.

Hardys Retail Nusa Dua, Bali

Banyaknya retail tutup di 2017 dianggap oleh sebagian kalangan terjadi karena daya beli masyarakat yang sedang menurun dan tidak mengikuti adaptasi tren online. Hal ini juga yang diungkapkan oleh I Gede dalam perbincangannya seperti yang dikutip dari tribunnews.com.

Pertanyaan yang sering muncul mengapa daya beli selalu menjadi ‘kambing hitam’ ketika banyak retail modern yang tutup. Namun, ada yang mengatakan bahwa daya beli masyarakat tidak menurun, melainkan hanya behavior masyarakat yang berubah. Lalu siapakah yang benar? Coba kita telaah lebih lanjut.

Daya Beli Jadi Kambing Hitam

Menurut Badan Pusat Statistik (BPS) mengakui daya beli masyarakat menurun di triwulan III 2017. Dimana, hal ini disebabkan oleh perubahan pola konsumsi, masyarakat lebih memilih belanja yang mengisi waktu luang (leisure activities) dibandingkan belanja non leisure.(Merdeka.com)

Data ini juga diamini oleh survei yang dilakukan oleh The Nielsen Company Indonesia yang menunjukan daya beli masyarakat kelas bawah dan menengah menurun pada jenis barang consumer goods, tepatnya barang konsumen yang bergerak cepat, umumnya barang-barang ini adalah barang kebutuhan sehari-hari.

Data Nielsen Mengenai Take Home Pay Masyarakat Indonesia, Diambil dari Detik.com

Pertumbuhan barang konsumen yang bergerak cepat hanya tumbuh 2,7 % selama 2017. Terlihat pula pada masa lebaran 2017 yang pertumbuhannya hanya 5 %, Padahal di 2016 bisa tumbuh mencapai 13,4 % di masa lebaran. (Detik.com)

Mengapa daya beli menurun?

Masih menurut penelitian Nielsen yang dikutip dari Detik.com, penurunan daya beli masyarakat dipengaruhi oleh turunnya Take Home Pay (THP/gaji total) yang juga mengalami penurunan. Sementara, biaya hidup masyarakat bawah dan menengah mengalami peningkatan.

Namun daya beli masyarakat Indonesia sebetulnya tidak menurun, jika kita melihat dari tren belanja online dan terus meningkatnya belanja Smartphone oleh masyarakat yang selalu meningkat setiap tahunnya. Masyarakat lebih suka berbelanja via online sebab lebih praktis.

Mengapa? Dengan belanja online konsumen tidak perlu mencari lokasi parkir di tempat perbelanjaan yang kadang sangat sulit didapatkan saat jam sibuk atau ketika Weekend. Selain itu, masyarakat pun sudah segan untuk bermacet-macetan hanya untuk membeli suatu produk yang bisa ia temukan hanya dalam genggamannya.

Tetapi kondisi tersebut tidak dilihat sebagai ancaman oleh banyak pengusaha dan pelaku retail di Indonesia, pada awal kemunculannya. Seperti yang terjadi pada Hardys Group yang tidak peka terhadap kehadiran tren belanja online yang semakin diminati oleh masyarakat Indonesia itu sendiri.

Rate This Article