WordPress contact form plugin

Facebook Posts

MASIH KEBURUUUUU buat belanja manjaaaah di HARBOLNAS ACCURATE ONLINE! Ayo dong masa 2018 orang-orang udah canggih, Anda masih ajaaa pusing ngatur data keuangan! ... See MoreSee Less

View on Facebook

Hindari Hutang! 3 Perusahaan Kondang Pailit Di 2017 Akibat Hutang, Satu Merupakan Legendaris Di Indonesia

Tahun 2017 segera berakhir, sepanjang tahun 2017 kita dikejutkan oleh banyaknya retail-retail modern yang mungkin sudah menjadi pemain besar di Indonesia harus tutup. Sebut saja Matahari Dept. Store, Lotus, Ramayana, dan Debenhams harus menutup beberapa store yang ada di Indonesia. Selain mereka, terdapat juga beberapa perusahaan yang harus pailit di 2017 ini. Ada tiga perusahaan terkenal di Indonesia yang harus dipailitkan di 2017, bahkan satu adalah perusahaan legendaris.

Tentunya kabar pailit beberapa perusahaan tersebut mengejutkan banyak pihak di Indonesia, terutama para pengusaha lain yang memiliki bisnis serupa di Indonesia. Siapa sajakah perusahaan yang di pailitkan di tahun 2017 kemarin? Berikut daftarnya!

PT Gagan Indonesia

PT Gagan Indonesia distributor Brand Vans

Vans Indonesia yang berada dibawah PT Gagan Indonesia. Foto: genmuda.com

Mungkin Anda tidak terlalu mengenal nama PT Gagan Indonesia. Tetapi hampir sebagian anak muda mengenal produk dari PT Gagan Indonesia, meskipun PT Gagan hanyalah perusahaan distributor. PT Gagan Indonesia merupakan perusahaan distributor resmi sepatu Vans di Indonesia. Perusahaan ini dinyatakan pailit oleh Pengadilan Niaga (PN) Jakarta Pusat pada akhir Mei 2017.

Pailitnya PT Gagan pada waktu itu menimbulkan kekecewaan bagi fans setia sepatu Vans. Karena hal ini mengharuskan PT Gagan menutup store-store Vans di Indonesia. Sampe-sampe di Twitter nongol hashtag #SaveVansIndonesia yang pada saat itu sempat trending.

Status pailit PT Gagan terjadi setelah gagal melakukan penundaan kewajiban pembayaran utang (PKPU) kepada para krediturnya. PT Gagan sebenarnya sudah mengajukan proposal perdamaian kepada para kreditur saat persidangan PKPU yang dilakukan pada 23 Mei 2017. Namun sebagian besar kreditur menolak proposal tersebut.

Penolakan dilakukan, karena aset PT Gagan Indonesia tidak sesuai dengan jumlah hutang yang ada. PT Gagan Indonesia memiliki hutang pada 50 kreditur hingga Rp 281,41 miliar, padahal aset milik PT Gagan hanya Rp 80,39 miliar. Hal inilah yang membuat proposal perdamaian PT Gagan Indonesia ditolak. Sehingga PT Gagan Indonesia harus di pailitkan demi hukum.

Nyonya Meneer

Nyonya Meneer pailit

Nyonya Meneer Pailit. Foto : Mediaindonesia.com

Selain PT Gagan Indonesia yang sempat mengejutkan para fans sepatu Vans di Indonesia, di 2017 pun berbagai pihak dikejutkan dengan dipailitkannya perusahaan jamu legendaris Indonesia pada awal Agustus 2017 oleh PN Semarang. Pailitnya Nyonya Meneer di Indonesia sangat mengejutkan berbagai pihak di Indonesia, terlebih perusahaan yang didirikan oleh Lauw Ping Nio memiliki hutang mencapai Rp 252 miliar kepada 85 krediturnya.

Pailitnya Nyonya Meneer sangat mengejutkan banyak pihak, apa lagi pasar jamu di Indonesia masih cukup baik, bahkan produk-produk Nyonya Meneer di ekspor ke negara tetangga seperti Malaysia, Hongkong, dan Taiwan.

Bagaimana perjalanan perusahaan jamu legendaris ini pailit? Nyonya Meneer sebenarnya sudah pernah PKPU pada 8 Januari 2015. Dimana permohonan tersebut diajukan oleh PT Citra Sastra Grafika dan PT Nata Merdian Investara (NMI). Permohonan dari kedua perusahaan tersebut akhirnya dikabulkan oleh majelis hakim PN Semarang.

PKPU yang diajukan oleh kedua perusahaan tersebut berakhir damai setelah Nyonya Meneer dan kreditur menemukan titik temu dalam perjanjian perdamaian. Perjanjian itu pun disahkan oleh pengadilan pada 1 Juni 2015.

Namun, dua tahun kemudian atau tepatnya di tahun 2017, seorang pemasok Nyonya Meneer membatalkan perjanjian perdamaian tersebut. Pemasok bahan baku kepada Nyonya Meneer yakni  Hendrianto Bambang Santoso. Merupakan kreditur konkuren (tanpa jaminan), Nyonya Meneer memiliki hutang kepada Hendrianto sebesar Rp 7 Miliar.

Melalui kuasa hukumnya, pihak Hendrianto menyatakan tidak menerima pembayaran dari Nyonya Meneer sejak dikabulkannya permohonan perdamaian PKPU pada 2015. Seharusnya Hendrianto menerima pembayaran memakai bilyet giro selama lima tahun.

Pengajuan pembatalan perdamaian tersebut dikabulkan oleh majelis hakim dan Nyonya Meneer akhirnya dinyatakan pailit. Padahal kalo dilihat dari segi bisnis, penjualan produk milik Nyonya Meneer masih cukup baik, baik itu penjualan di dalam negeri maupun penjualan di luar negeri.

Namun, akibat dari pengelolaan keuangan perusahaan yang tidak sesuai membuat perusahaan Nyonya Meneer harus di pailitkan. Meskipun beberapa Minggu setelah dinyatakan pailit, ada beberapa Grup perusahaan yang ingin menyelamatkannya. Seperti perusahaan milik Rachmat Gobel dan perusahaan jamu Sidomuncul.

Hardys Retail

Hardys Grup pun harus Pailit karena hutang Rp 2,3 T

Perusahaan ketiga yang dinyatakan pailit di penghujung 2017 yakni pailitnya Hardys Retail. Siapa Hardys Retail? Memang tidak banyak masyarakat Indonesia yang mengetahui keberadaan Hardys Retail, kecuali masyarakat Bali. Hardys Retail merupakan retail terbesar yang ada di Pulau Dewata, Bali. Retail ini dinyatakan pailit pada 9 November 2017 oleh PN Surabaya.

Tak tanggung-tanggung, pailitnya Hardys disebabkan oleh hutang yang dimiliki mencapai angka yang cukup fantastis, yakni Rp 2,3 triliun. Selain itu, Hardys belum membayar tagihan pajaknya yang mencapai angka Rp 40 miliar.

Hardys Grup telat melakukan pembayaran kepada 18 krediturnya. Meskipun permohonan PKPU sudah ditolak oleh para krediturnya dan majelis hakim menyatakan Grup Hardys Holding dinyatakan pailit.

Pemilik Hardys Grups, I Gede Hardiawan menyatakan bahwa pailitnya grup holding miliknya disebabkan oleh tidak mengikuti tren online yang sudah beberapa tahun terjadi, dan terlalu ekspansif dalam sektor lain yakni properti dibawah naungan Hardys Land. Tentunya hal ini membuat Hardys Retail mengalami pailit.

Selain karena terlalu ekspansif dalam sektor properti, I Gede menyatakan pailitnya Hardys Retail disebabkan oleh daya beli masyarakat yang menurun. Apa lagi, suburnya pertumbuhan minimarket-minimarket modern yang masuk ke desa-desa menjadi salah satu menurunnya omzet Hardys retail.

Saat ini, Hardys Retail telah diselamatkan oleh PT Arta Sedana Retailindo melalui sokongan dana Bank Muamalat sebagai kurator yang ditunjuk oleh PN Surabaya. Sehingga pihak Hardys Retail tidak akan menutup seluruh gerai yang ada serta tidak melakukan PHK kepada para karyawannya.

Ketiga perusahaan itu adalah perusahaan dengan nama besar yang dinyatakan pailit sepanjang 2017 ini. Hampir semua perusahaan tersebut sedang mencoba di selamatkan oleh perusahaan dan investor lain.

Status pailit memang harus dinyatakan melalui proses hukum, setelah adanya permohonan dari pihak Debitor (perusahaan itu sendiri) atau dilakukan oleh pihak kreditur yang tidak juga menerima pembayaran hutang dari Debitor yang sudah jatuh tempo.

Sebagian besar perusahaan yang pailit adalah perusahaan yang memiliki hutang cukup banyak. Bahkan hutang yang dimiliki bukan hanya hutang kepada satu kreditur saja, tetapi mereka memiliki hutang kepada banyak kreditur.

Sebagai pengusaha, memang selalu ingin mengembangkan usaha yang Anda miliki. Namun, sebagian pengusaha selalu mencari cara yang instan untuk mendapatkan modal demi mengembangkan usaha mereka. Anda yang sedang mengembangkan usaha, sebaiknya hindari untuk berhutang jika belum mampu membayar hutang beserta bunga yang akan ditanggung.

Lebih baik Anda bangun bisnis pelan-pelan hingga besar, dan ambillah sedikit keuntungan yang didapatkan menjadi tabungan untuk mengembangkan usaha yang Anda miliki. Semoga bisnis Anda bisa sukses tanpa hutang.

Rate This Article